Langsung ke konten utama

Postingan

KHILAFAH ITU INSTITUSI POLITIK, BUKAN AGAMA!

Hanya mereka yang tidak memahami al-Quran dan membaca sejarah Islam yang akan menyangkal judul di atas. Sebelum membahas dua sumber tersebut (al-Quran dan sejarah Islam), perlu ditegaskan bahwa kegandrungan sebagian masyarakat Muslim di Indonesia terhadap sistem khilafah sebagai bentuk pemerintahan Islam merupakan fenomena baru. Sejak awal, bahkan sebelum kemerdekaan, ide khilafah itu sama sekali tidak menjadi pertimbangan kaum Muslim. Dua tahun setelah Khilafah Usmaniyah dibubarkan pada 1924, kongres tentang khilafah digelar di Kairo dan Jeddah, yang juga dihadari oleh peserta dari Indonesia. Seperti dituturkan oleh Prof. Hamka, salah seorang peserta kongres tersebut adalah bapaknya sendiri. “Peserta dari Indonesia sama sekali tidak antusias dengan sistem khilafah,” tulis Hamka dalam memoar mengenang orang tuanya, Ajahku: Riwajat Hidup Dr. H. Abd Karim Amrullah dan Perdjuangan Kaum Agama di Sumatera (1958). Peserta lain adalah Mohammad Natsir, seorang tokoh utama parta...

Agama Dalam Jerat Kekerasan

Agama diciptakan untuk manusia dan kemaslahatan, bukan untuk Tuhan dan kemaslahatannya. Karena memang Tuhan tidak beragama dan tidak perlu agama. Akan tetapi, banyak klaim yang menyatakan bahwa Tuhan memiliki sekat-sekat agama dengan saling mengklaim satu sama lain antara pemeluk agama. Pada dasarnya, agama itu sepenuhnya damai dan tidak mengenal kekerasan. Namun, apakah ada agama yang tanpa kekerasan? Jawabannya, sayangnya, tidak ada. Ada beberapa hal yang menyebabkan agama tidak lepas dari kekerasan. Pertama , karena dalam agama ada ajaran tentang pengorbanan. Ajaran ini meniscayakan adanya pengorbanan untuk membuktikan iman atau cinta kepada Tuhan. Kisah Nabi Ibrahim dan Ismail (atau Ishak, dalam konteks Kristen) adalah contoh terbaik ajaran tentang pengorbanan itu. Walaupun akhirnya Tuhan mengganti Ismail (Ishak) dengan domba, itu sudah cukup untuk menggambarkan bahwa ada kekerasan yang dianjurkan agama, yang demikian ia menjadi kekerasan yang sakral. Dalam konteks Islam, kisa...

Plato: Hari-Hari Terakhir Socrates

Semasa hidupnya, Socrates tidak pernah menuliskan satu buku pun dari pemikirannya. Namun sekolah filsafat yang muncul setelahnya menganggap sebagai guru mereka. Mengapa ia menjadi magnet yang dahsyat? Salah satu alasannya adalah karena Socrates menghidupi etika yang rigor : ia senantiasa berusaha mengisi hidupnya dengan cara urip in pepadhang (hidup secara terang, selalu jelas dengan dirinya sendiri). Dan ia membangun kemanusiannya sebagai anak cahaya tidak secara autis, melainkan dalam pencarian bersama orang lain. Dalam perjumpaan dan dialog inilah hidup baru yang benderang bercahaya dilahirkan oleh "yang lain" (dan ini wajar karena tak seorangpun bisa melahirkan dirinya sendiri). Baginya, setiap ide, pengetahuan, pikiran, dan bahkan cara hidup, selalu harus dikonfrontasikan dengan orang lain. Kebenaran adalah jalan yang tak pernah selesai, kecintaan kepada kebenaran (filsafat) adalah praktek hidup, dan hidup adalah tuntutan untuk urip in pepadhang (hidup secara terang,...

Socrates dan Daimonion-nya

Apa yang membuat Socrates konsisten melakoni urip in pepadhang sehingga berani melawan cara berpolitik polis yang ia taati? Socrates sangat setia dengan hukum polis sehingga meski tahu bahwa ia bisa melarikan diri dari hukuman tidak adil yang dijatuhkan padanya, toh ia menolak tawaran melarikan diri dari kawan-kawannya ( Kriton, 48a-54a). Di dalam buku Apologia Socrates sendiri menjelaskan bahwa hidupnya hanyalah mengikuti bisikan daimonion -nya. Dalam tulisan pada Apologia terjemahan dari Ioanes Rakhmat ( Apologia 31c-e), Socrates mengatakan demikian: "Tapi alasan aku mengapa demikian sudah kukemukakan (d) dibanyak tempat dan kalian sudah sering mendengarnya: bahwa aku kerap didatangi suatu suara ilahi (theion) atau suara daimonion tertentu, sesuatu yang disinggung dan dicemooh oleh Meletus dalam dakwaannya. Ini sudah terjadi sejak aku kanak-kanak: semacam suara yang datang, dan yang senantiasa, ketika mendatangiku, mencegahku melakukan sesuatu yang mau aku lakukan, namun...

Kisah Pengorbanan Putra Ibrahim Dalam Yahudi, Kristen, dan Islam

(Tulisan pertama dari tiga tulisan) Kisah pengurbanan putra Nabi Ibrahim sangat populer dalam kalangan Yahudi, Kristen, dan Islam. Misalkan dalam kitab Taurat Sefer Beresit (Kejadian 22: 1-14). Disana dijelaskan bahwa putra Ibrahim yang akan dikorbankan adalah Ishak. Kitab ini merupakan sumber tertua, jauh sebelum versi Islam muncul pada abad VII M. Kitab Injil juga menyinggung sekilas dalam rangka teladan iman dan ketaatan seperti yang tertulis dalam Surah Ibrani: "Pistei prosenenoksen Abraham to Isaak peirazomenos"  Artinya: "Karena iman, tatkala dicobai, Abraham mempersembahkan Ishak" (Ibrani: 11: 170). Sedangkan dalam al-Qur'an sendiri menyebutkan kisah tersebut dalam Surah Ash-Shaffat: 101-102: "Fabasyarnahu bi ghulamin halim". Artinya: "Dan kami berikan kabar gembira dengan seorang anak yang penyantun".  Akan tetapi di ayat ini tidak di jelaskan siapa anak yang akan dikorbankan, melainkan hanya menyebutkan identitas anak...

PANCASILA: Perpaduan Dua Ideologi

Pancasila adalah ideologi bangsa Indonesia yang terdiri dari 5 Sila. Dalam sila ke 1 dan ke 5 adalah merupakan perpaduan dari dua ideologi besar dunia. Ideologi pertama adalah Manifesto Komunis  dan ideologi kedua adalah Deklarasi Kemerdekaan AS .  Dalam catatan sejarah,  Manifesto Komunis ini lahir dan didirikan oleh Karl Marx dan Friedrich Engels. Mereka berdua berasal dari Jerman dan disebut sebagai bapa pendiri paham komunis. Friedrich Engels sendiri adalah seorang industrialis yang dikirim keluarganya untuk memimpin pabrik di Manchester Inggris. Disitulah dia mulai memiliki kepedulian kepada kelas pekerja yang pernah dituangkan dalam bukunya yang berjudul Condition of the Working Classes in England pada tahun 1844. Marx dan Engels adalah dua sahabat yang cukup akrab di masa hidupnya. Sedangkan Deklarasi Kemerdekaan AS adalah deklarasi yang pertama kali keluar pada masa kepresidenan Thomas Jefferson. Thomas Jefferson lahir di Shadwell, Virginia...

Kontroversi Pengorbanan Ibrahim

Setiap tahun umat Muslim selalu merayakan yaum an-nahr  atau dikenal dengan Idul Adha. Hari Penyembelihan ini memiliki keterkaitan sejarah yang cukup membumi, menjadi sebuah ritual seluruh umat manusia sejak zaman agama pagan yang mempersembahkan atau mengurbankan hewan demi sesembahannya yang diyakininya. Hari Raya Idul Adha kerapkali menyisakan pertanyaan mendasar tentang siapa yang menjadi sosok yang paling benar dikurbankan. Apakah Ismail sebagaimana yang diakui oleh umat Islam atau Ishak yang diakui oleh umat Yahudi dan Kristen? Pertanyaan seperti ini sering kali diperdebatkan dikarenakan posisinya sangat penting untuk diakui sebagai sumber keteladanan pengorbanan.  Setidaknya ketika seseorang hendak berkurban melalui hewan, pasti yang ada teringat dalam imajinasinya adalah untuk meneladani spirit pengorbanan yang dilakukan Ibrahim. Sebenarnya kalau kita lihat dalam konteks Al-Quran sendiri sesungguhnya tidak menyebut secara eksplisit identitas anak yang dikor...