Langsung ke konten utama

Postingan

Puasa Dalam Agama Ibrahimiah

Puasa merupakan salah satu tradisi yang sudah dilakukan secara turun-temurun dalam agama Ibrahimiah (Yahudi, Kristen, Islam). Dalam praktik puasa, setiap agama memiliki sudut pandang dan tata cara yang berbeda dalam memaknai puasa, meskipun ada beberapa persamaan di dalamnya. Dalam agama Ibrahimiah, praktik puasa dilakukan pertama kali dalam tradisi agama Yahudi, yang kemudian agama-agama sesudahnya (Kristen, Islam) saling mengadopsi praktik puasa ini. Dalam tulisan ini saya akan mengawali dari agama Yahudi sebagai agama pertama yang lahir dari keturunan Ibrahim, yang kemudian akan dilanjutkan dengan praktik puasa dalam agama Kristen dan Islam. 1. Yahudi dan Kristen Dalam agama Yahudi, puasa diartikan sebagai mencari hadirat Tuhan dengan merendahkan diri di hadapan Tuhan agar terjadi rekonsiliasi atau pendamaian dengan Tuhan. Mereka memaknai puasa bukan sebuah ritual keagamaan yang ditujukan untuk mendapatkan berkah tertentu, tetapi sebagai bentuk kerendahan diri, mencarai ...

Socrates-nya Plato

Socrates adalah karakter yang mendapatkan banyak dugaan dalam literature, yang diubah oleh persepsi penulis tentang karakter dari aktivitasnya. Di antara para akademisi filsafat kuno, Socrates kerap dianggap sebagai “Socrates”nya Plato karena dia tergambar dalam dialog-dialog Plato yang mereka labeli sebagai “Sokratik”. Namun, tidak terdapat banyak kesepakatan tentang sebutan atau label yang pas. Sekarang semuanya cenderung menuju bahwa dalam karya periode tengah dan akhir Plato, karakter yang disebut Socrates menjadi lebih menyerupai penyambung lidah doktrin Plato sendiri dan kurang dikarakterisasi “secara Sokratik”. Phaedo biasanya digolongkan sebagai karya di dua periode tersebut. Sekalipun demikian, karya tersebut tetap menawarkan sejumlah persepsi yang masuk ke dalam pemdangan Plato tentang Socrates yang sesungguhnya. Karenanya, kronologi menjadi penting. Bukan karena Plato melupakan mentor dan sumber inspirasinya, tetapi (i) perhatiannya berubah dan berkembang dalam satu ...

KHILAFAH ITU INSTITUSI POLITIK, BUKAN AGAMA!

Hanya mereka yang tidak memahami al-Quran dan membaca sejarah Islam yang akan menyangkal judul di atas. Sebelum membahas dua sumber tersebut (al-Quran dan sejarah Islam), perlu ditegaskan bahwa kegandrungan sebagian masyarakat Muslim di Indonesia terhadap sistem khilafah sebagai bentuk pemerintahan Islam merupakan fenomena baru. Sejak awal, bahkan sebelum kemerdekaan, ide khilafah itu sama sekali tidak menjadi pertimbangan kaum Muslim. Dua tahun setelah Khilafah Usmaniyah dibubarkan pada 1924, kongres tentang khilafah digelar di Kairo dan Jeddah, yang juga dihadari oleh peserta dari Indonesia. Seperti dituturkan oleh Prof. Hamka, salah seorang peserta kongres tersebut adalah bapaknya sendiri. “Peserta dari Indonesia sama sekali tidak antusias dengan sistem khilafah,” tulis Hamka dalam memoar mengenang orang tuanya, Ajahku: Riwajat Hidup Dr. H. Abd Karim Amrullah dan Perdjuangan Kaum Agama di Sumatera (1958). Peserta lain adalah Mohammad Natsir, seorang tokoh utama parta...

Agama Dalam Jerat Kekerasan

Agama diciptakan untuk manusia dan kemaslahatan, bukan untuk Tuhan dan kemaslahatannya. Karena memang Tuhan tidak beragama dan tidak perlu agama. Akan tetapi, banyak klaim yang menyatakan bahwa Tuhan memiliki sekat-sekat agama dengan saling mengklaim satu sama lain antara pemeluk agama. Pada dasarnya, agama itu sepenuhnya damai dan tidak mengenal kekerasan. Namun, apakah ada agama yang tanpa kekerasan? Jawabannya, sayangnya, tidak ada. Ada beberapa hal yang menyebabkan agama tidak lepas dari kekerasan. Pertama , karena dalam agama ada ajaran tentang pengorbanan. Ajaran ini meniscayakan adanya pengorbanan untuk membuktikan iman atau cinta kepada Tuhan. Kisah Nabi Ibrahim dan Ismail (atau Ishak, dalam konteks Kristen) adalah contoh terbaik ajaran tentang pengorbanan itu. Walaupun akhirnya Tuhan mengganti Ismail (Ishak) dengan domba, itu sudah cukup untuk menggambarkan bahwa ada kekerasan yang dianjurkan agama, yang demikian ia menjadi kekerasan yang sakral. Dalam konteks Islam, kisa...

Plato: Hari-Hari Terakhir Socrates

Semasa hidupnya, Socrates tidak pernah menuliskan satu buku pun dari pemikirannya. Namun sekolah filsafat yang muncul setelahnya menganggap sebagai guru mereka. Mengapa ia menjadi magnet yang dahsyat? Salah satu alasannya adalah karena Socrates menghidupi etika yang rigor : ia senantiasa berusaha mengisi hidupnya dengan cara urip in pepadhang (hidup secara terang, selalu jelas dengan dirinya sendiri). Dan ia membangun kemanusiannya sebagai anak cahaya tidak secara autis, melainkan dalam pencarian bersama orang lain. Dalam perjumpaan dan dialog inilah hidup baru yang benderang bercahaya dilahirkan oleh "yang lain" (dan ini wajar karena tak seorangpun bisa melahirkan dirinya sendiri). Baginya, setiap ide, pengetahuan, pikiran, dan bahkan cara hidup, selalu harus dikonfrontasikan dengan orang lain. Kebenaran adalah jalan yang tak pernah selesai, kecintaan kepada kebenaran (filsafat) adalah praktek hidup, dan hidup adalah tuntutan untuk urip in pepadhang (hidup secara terang,...

Socrates dan Daimonion-nya

Apa yang membuat Socrates konsisten melakoni urip in pepadhang sehingga berani melawan cara berpolitik polis yang ia taati? Socrates sangat setia dengan hukum polis sehingga meski tahu bahwa ia bisa melarikan diri dari hukuman tidak adil yang dijatuhkan padanya, toh ia menolak tawaran melarikan diri dari kawan-kawannya ( Kriton, 48a-54a). Di dalam buku Apologia Socrates sendiri menjelaskan bahwa hidupnya hanyalah mengikuti bisikan daimonion -nya. Dalam tulisan pada Apologia terjemahan dari Ioanes Rakhmat ( Apologia 31c-e), Socrates mengatakan demikian: "Tapi alasan aku mengapa demikian sudah kukemukakan (d) dibanyak tempat dan kalian sudah sering mendengarnya: bahwa aku kerap didatangi suatu suara ilahi (theion) atau suara daimonion tertentu, sesuatu yang disinggung dan dicemooh oleh Meletus dalam dakwaannya. Ini sudah terjadi sejak aku kanak-kanak: semacam suara yang datang, dan yang senantiasa, ketika mendatangiku, mencegahku melakukan sesuatu yang mau aku lakukan, namun...

Kisah Pengorbanan Putra Ibrahim Dalam Yahudi, Kristen, dan Islam

(Tulisan pertama dari tiga tulisan) Kisah pengurbanan putra Nabi Ibrahim sangat populer dalam kalangan Yahudi, Kristen, dan Islam. Misalkan dalam kitab Taurat Sefer Beresit (Kejadian 22: 1-14). Disana dijelaskan bahwa putra Ibrahim yang akan dikorbankan adalah Ishak. Kitab ini merupakan sumber tertua, jauh sebelum versi Islam muncul pada abad VII M. Kitab Injil juga menyinggung sekilas dalam rangka teladan iman dan ketaatan seperti yang tertulis dalam Surah Ibrani: "Pistei prosenenoksen Abraham to Isaak peirazomenos"  Artinya: "Karena iman, tatkala dicobai, Abraham mempersembahkan Ishak" (Ibrani: 11: 170). Sedangkan dalam al-Qur'an sendiri menyebutkan kisah tersebut dalam Surah Ash-Shaffat: 101-102: "Fabasyarnahu bi ghulamin halim". Artinya: "Dan kami berikan kabar gembira dengan seorang anak yang penyantun".  Akan tetapi di ayat ini tidak di jelaskan siapa anak yang akan dikorbankan, melainkan hanya menyebutkan identitas anak...